Udah 2 bulan terakhir ini males banget nulis. Sebabnya? Ada deeeeeeeeh, hahahahaha…
Just to share, buat gw menulis adalah medium untuk aktualisasi. Aktualisasi untuk apa? Untuk diri sendiri. Hahaha, kedengerannya memang basi, tapi gw percaya bahwa aktualisasi diri itu PERLU, apapun bentuknya.
Minggu lalu, Sisil membagi cerita tentang Yoga Festival yang di ikuti di Bali beberapa minggu yang lalu. She tell me stories and I got something very interesting: manusia need to be connected with spiritual. Medium untuk connect dengan spiritual tentunya bermacam bentuknya. Ada yang lewat agama yang diformalisasikan dalam bentuk sembahyang, ada yang lewat aktivitas fisik dan hati, dan lain-lain dan lain-lain. Bisa juga dengan cara berkespresi, salah satunya dengan menari, menyanyi, menulis, menggambar dan lain-lain.
Pas kuliah dulu gw jarang sekali merasa frustasi . Dan tahun-tahun setelahnya berasa asyik-asyik aja walaupun yang namanya hidup dan pekerjaan pasti ada aja yang bikin stress. Jawabannya adalah ketika kuliah selalu punya medium untuk berkespresi, dan tahun-tahun sesudahnya masih menyediakan waktu untuk menulis - pull out all the questions inside me. Saat berkarya atau menulis, otak, hati dan tangan dilatih untuk sinkron: otak berfikir- hati menyaring – tangan mengetik.
Walaupun kadang bete juga ya kalau tulisan kita diasumsikan yang enggak-enggak sama orang yg baca. Padahal belum tentu isi tulisan adalah curhat yang nulis. Seperti status YM dan Facebook seringkali diartikan sebagai medium curhat, marah-marah atau menyerang. Hihihihi. Ya ga bisa disalahin juga secara di posting di internet, kalo ga mau dikomentarin mah ya ditulis aja di buku harian ;-p
Mari mulai menulis lagi, karena sinkronisasi otak-hati dan tangan gw mulai tidak seimbang. Hahahaha.
Wait! Wait! ada satu lagi moral yg gw ambil terinspirasi dari cerita Sisil: Percaya wisdom yang bilang memberi lebih mulia dari menerima. Gw tambahin jadi memberi lebih mulia dan menyenangkan daripada menerima :-D
Welcome back, bloggers!